Sabtu, 31 Maret 2012

TOPI ANYAMAN (HAT - Handicraft)

Topi anyaman adalah salah satu industri kerajinan yang terdapat di Indonesia. Saat ini, lokasi kerajinan ini telah beredar di berbagai daerah di Indonesia.

Topi ini dibuat dari berbagai bahan alami, ada yang dari pandan dan mensiang. Topi ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan topi-topi yang diproduksi dengan bahan dan cara yang lebih maju, seperti topi berbahan dasar kain atau kulit.

Topi pandan, merupakan salah satu topi anyaman yang bahan bakunya dari tanaman pandan. Bahan bakunya terdiri dari dua macam, ada pandan laut, dan ada pandan gunung. Dua jenis pandan ini (dengan kualitas bagus) tumbuh di daerah-daerah tertentu saja. Tidak semua daerah di Indonesia mempunyai tanaman pandan yang bagus.

Tasik Malaya adalah salah satu tempat kerjinan topi anyaman yang besar di Indonesia. Topi anyaman merupakan salah satu kerajinan kebanggaan masyarakat Tasik. Di Tasik topi anyaman tersebut menggunakan pandan dan mensian, ada juga pandan panama dan lainnya. Produksi topi per industri setiap bulannya mencapai 800 buah topi. Para pengusaha topi anyaman ini menggunakan tenaga tetap dan lepas.

Selain di Tasik, daerah Sumatera Barat juga merupakan salah satu daerah yang banyak memroduksi topi anyaman. Tidak hanya dengan bahan pandan atau mensiang. Di sumatera barat juga ada kerajinan topi anyaman dengan bahan rotan. Payakumbuh merupakan daerah yang terdapat kerjinan anyaman tersebut.

Selain di Payakumbuh, Silungkang juga merupakan daerah tempat produksi anyaman dengan kualitas tinggi. Hanya saja para pengusaha anyaman mendapat kesulitan dalam memperoleh bahan pada saat musim hujan. Umunya produksi topi anyaman hanya dilakukan 6 bulan saja, yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli. Pada bulan-bulan lainnya (musim hujan) produksi tidak dilakukan, karena bahan baku yang susah, dan kalaupun ada tidak berkualitas tinggi. Di daerah silungkan, para pengrajin mampu memproduksi 10.000 buah topi setiap bulannya.
Kerajinan topi anyaman ini juga terdapat di daerah Kalimantan, yaitu Banjarmasin. Hanya saja, di Banjarmasin hanya terdapat kerajinan topi anyaman yang bahan bakunya berasal dari mensiang. Banjarmasin tidak memiliki bahan baku untuk pandan. Makassar dan bunaken juga merupakan salah satu penghasil topi pandan di Indonesia.

Sarasan, Kepulauan Natuna, Riau, juga merupakan salah satu penghasil anyaman pandan dengan kualitas tinggi. Hasil anyaman daerah ini sering diekspor dan menjadi item pameran di luar negeri. Namun rendahnya akses dan komunikasi ke daerah ini, membuat bisnis daerah ini sulit mendapatkan client yang luas.

Harga topi anyaman sangat beragam di setiap daerah di Indonesia. Untuk topi pandan, harga dimulai dari Rp 5.000,00 sampai Rp. 25.000,00, tergantung kualitas bahan dan tingkat kesukaran dalam penganyaman. Sedangkan untuk topi anyaman berbahan mensiang harga retailer dimulai dari Rp. 3.000,00. Untuk topi anyaman berbahan baku rotan, harganya lebih tinggi dibanding topi bahan lainnya. Harganya dimulai dari Rp 20.000,00.

Para pengusaha kerajinan ini tidak hanya melakukan produksi reguler dengan memasok ke para grosir dan retailer, juga melakukan produksi berdasarkan pesanan konsumen. Model jgua dibuat berdasarkan keinginan konsumen.

Kerajinan anyaman merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang dapat memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bisnis ini perlu mendapakan dukungan dan perhatian agar dapat meningkatkan nilai bisnis topi anyaman ini.

Indonesia bukan satu-satunya daerah penghasil kerajian topi anyaman ini. Cina juga merupakan salah satu negara yang menjadikan topi anyaman sebagai salah satu komoditi ekspor negara tersebut. Namun dari segi kualitas. BUatan Indonesia masih tidak kalah dibanding produk-produk negara lainnya, hanya saja penanganan bisnis yang masih kurang, membuat harga topi anyaman dari Indonesia masih kalah saing dengan negara lain.

Sebenarnya ada daerah-daerah lain yang mempunyai kerajinan topi anyaman. Namun penulis hanya tau beberapa saja. Dan semua yang ditulis adalah berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, serta hasil pengamatan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar